Guest Lecture Australian National University: Buka Peluang Kolaborasi Melalui Riset

Guest Lecture Australian National University: Buka Peluang Kolaborasi Melalui Riset

Guest Lecture Australian National University: Buka Peluang Kolaborasi Melalui Riset

BANDUNG, itb.ac.id. – International Relation Office (IRO) ITB bekerjasama dengan Sekolah Farmasi ITB dan Australian National University menggelar guest lecture di Ruang Pertemuan Gedung Laboratorium Pengujian Doping Lantai IV pada Rabu (29/03/17). Acara yang berlangsung pukul 10.00-11.00 WIB ini diikuti oleh civitas akademica dari Sekolah Farmasi ITB dan Prof. Kiaran Kirk dari ANU College of Medicine, Biology, and Environment sebagai dosen tamu. Kuliah diisi dengan pemaparan riset mengenai tren obat malaria yang kian gencar diadakan mengingat resistensi dari parasit malaria seperti Plasmodium vivax dan Plasmodium falciprum terus terjadi.

Kedatangan Prof. Kiaran bersama sepuluh rombongan dari Australian National University tentu memiliki tujuan tertentu. “Mereka datang ingin mencari peluang kerjasama dengan ITB. Riset mengenai malaria dari Prof. Kiaran Kirk kebetulan cocok dan koheren dengan prodi farmasi. Ada beberapa dosen kami yang juga meneliti malaria, baik dari sisi parasit, obat alam, hingga sistem penghantarannya,” jelas Catur Riani, dosen Kelompok Keahlian Farmasetika ITB. Prof. Kiaran menjelaskan secara sistematis keberjalanan obat malaria mulai dari senyawa quinine, chloroquine, artemisinin, hingga temuannya, KAE609.Melalu topik risetnya “Fighting Malaria Parasites with Chemical Welfare,” Prof. Kiaran berhasil menarik simpati peserta guest lecture dalam sesi tanya jawab.

Tentang KAE609

Obat malaria pertama kali ditemukan di senyawa quinine yang terkandung dalam daun kina. Seiring berjalannya waktu, senyawa ini tak lagi ampuh menyembuhkan malaria karena parasit malaria telah mencapai kondisi resisten terhadap zat tersebut. Selain itu, produksi quinine juga membutuhkan Cost of Goods Sold (COGS) yang tinggi sehingga tidak menguntungkan dalam kacamata bisnis industri farmasi. Obat malaria selanjutnya ditemukan dalam senyawa chloroquine. Namun, Plasmodium vivax tetap mencapai kondisi resisten sekalipun chloroquine terbukti mampu membunuh mikroba tersebut. Begitu pula dengan senyawa artemisinin yang ditemukan di Tiongkok.

Prof. Kiaran Kirk dalam risetnya telah melakukan screening terhadap ribuan senyawa dan mendapatkan satu senyawa sebagai kandidat yang menjanjikan yaitu KAE609. Beliau menguji senyawa tersebut terhadap Plasmodium vivax dan terbukti dapat membunuh parasit tersebut. Senyawa KAE609 merusak sistem pompa dalam sel parasit dan menyebabkan reaksi Na+ berlebihan. Obat ini diduga hanya akan memengaruhi pompa dari parasit itu sendiri. Walaupun demikian, parasit tersebut juga berhasil mencapai kondisi resisten pula.

Reporter : Muh. Khasan Abdurrohman
(Sekolah Bisnis dan Manajemen)
ITB Journalist Apprentice 2017
Sumber gambar: dokumentasi penulis

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.