Silaturahmi Idul Fitri 1436 H di ITB

Silaturahmi Idul Fitri 1436 H di ITB

BANDUNG, itb.ac.id – Setelah sempat lengang beberapa waktu lalu, suasana ITB kembali hidup diramaikan kedatangan para tamu undangan Silaturahmi Idul Fitri 1436 H. Acara yang digelar pada Senin (27/07/15) ini dihadiri sekitar 2000 tamu dari berbagai kalangan yang tergabung sebagai Keluarga Besar Institut Teknologi Bandung. Selain dihadiri oleh para Rektor ITB, Ketua Senat, Majelis Wali Amanat (MWA), Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat, jajaran Kementerian Agama, dan perwakilan salah satu universitas Islam di Bandung. Kegiatan tahunan ini pun dihadiri tamu dari luar ITB. Tokoh nasional, Lukman Hakim Saifuddin yang menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia memberikan sambutan dan tausyiah dalam acara yang digelar di Aula Barat.

Pembacaan tilawah oleh Handoko, mahasiswa jurusan Fisika 2010 mengawali kegiatan ini sekaligus menambah kekhidmatan berlangsungnya seluruh rangkaian acara. Beberapa sambutan dari tokoh penting yang hadir juga melengkapi waktu kebersamaan kali ini. Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA, selaku Rektor Institut Teknologi Bandung menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri dan permohonan maaf dalam sambutannya kepada seluruh tamu yang hadir. Beliau menyampaikan, “Dengan berakhirnya Ramadhan, bukan berarti kompetisi dalam kebaikan juga berakhir, namun kompetisi setelahnyalah yang merupakan kompetisi sebenarnya, semoga kita dapat mengambil kebaikan sebanyak-banyaknya dari Ramadhan kali ini.” Kegiatan pun kemudian dilanjutkan dengan cermah singkat dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Sebagai bentuk syukur, silaturahmi kali ini ditutup dengan pembacaan doa oleh Suharto, SH.

Kembali ke Fitrah, Jalankan Fungsi Kodrati

Masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat religius. Menjunjung nilai-nilai luhur agama dalam kebhinekaan. “Semua agama itu pada dasarnya ajarannya adalah untuk kebajikan, untuk memanusiakan manusia. Agar manusia dapat menjalankan fungsi sesuai kodratnya,” ungkap Lukman dalam tausiahnya.

Mengenai kebaikan, “Sebenarnya manusia diperintahkan untuk menjaga kebaikan yang sudah ada dan tetap menggali yang lebih baik,” begitulah Lukman menambahkan juga sesekali menyinggung mengenai realita keadaan bangsa. Baginya agama yang sesuai dengan kodrat dan fitrahnya adalah solusi kebangkitan bangsa.

sumber: www.itb.ac.id