Skip to main content

KAMPUNG ADAT CIKONDANG: MODEL KOMPREHENSIF DALAM MENJAGA KESEIMBANGAN KEHIDUPAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN

Keberadaan kampung adat di era modern pada suatu daerah merupakan hal yang patut diapresiasi dan dilestarikan. Salah satu daerah yang melestarikan adat dan budaya leluhur adalah Kampung Adat Cikondang. Kampung Adat ini berada di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Masyarakat di Kampung Adat Cikondang telah lama menerapkan model komprehensif untuk menjaga keseimbangan kehidupan manusia dan lingkungan. Ada berbagai macam aspek kehidupan yang masih terjaga hingga saat ini dalam upaya melestarikan dan mengeksplorasi lingkungan alam. Hal ini merupakan aspek menarik untuk dilakukan suatu pengkajian. Tak terkecuali tim dari Sekolah Farmasi (SF), Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam tim Mata Kuliah Etnofarmakognosi yang terdiri dari Prof. Dr. apt. Sukrasno, Dr. apt. Hegar Pramastya, Dr. apt. Fitriana Hayyu Arifah, Reza Abdul Kodir, M.Si, beserta dengan seluruh mahasiswa terdiri dari 26 peserta.


Gambar 1. Kunjungan Tim SF ITB ke Kampung Adat Cikondang

Mata Kuliah Etnofarmakognosi mempelajari terkait tentang ilmu pengobatan bahan alam yang berasal dari masyarakat. Ilmu Etnofarmakognosi mengintegrasikan beberapa cabang bidang keilmuan menjadi kajian yang komprehensif. Keilmuan yang terkait seperti antropologi, botani, dan farmakologi. Ilmu antropologi digunakan untuk memahami kompleksitas sosiokultural suatu masyarakat. Bidang keilmuan botani digunakan untuk memahami bahan yang digunakan oleh masyarakat karena sebagian besar bahan yang digunakan adalah tumbuhan. Sedangkan, ilmu farmakologi digunakan untuk memahami penggunaan efek terapi dari bahan yang digunakan oleh masyarakat. Kuliah Etnofarmakognosi ini terdiri dari dua aspek yaitu teori di kelas yang diisi oleh dosen pengampu dan praktisi, serta praktek yang diisi dengan kunjungan ke Kampung Adat Cikondang. Pemilihan Kampung Adat Cikondang ini tidak hanya mengakomodir aspek pengobatan, namun pengunjung dapat mempelajari aspek filosofi dan kehidupan religius bermasyarakat, kuliner, pertanian dan persawahan, dan hutan lindung dan plasma nutfah.

Aspek Filosofi dan Kehidupan Religius Bermasyarakat

Kampung Adat Cikondang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun, yang mana penamaannya berasal dari kata “Ci” (air) dan “Kondang” (terkenal). Awalnya Kampung Adat Cikondang terdiri dari puluhan rumah adat, hingga terjadi peristiwa kebakaran hebat pada tahun 1942 sehingga tersisa hanya 1 rumah adat saja. Area rumah adat ini terdiri dari bangunan rumah adat, bale, leuit (lumbung padi), dan tampiyan (kamar mandi). Setiap detail dari bangunan rumah adat ini memiliki filosofi dan pemaknaan khusus. Rumah adat ini disebut “Julangapak” yang memiliki 5 jendela yang bermakna jumlah rukun Islam maupun tentang shalat 5 waktu. Jumlah jerugi pada setiap jendela berjumlah 9 yang bermakna walisongo. Sedangkan, pintu dari rumah adat ini hanya berjumlah 1 yang bermakna prinsip tauhid kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rumah adat ini tidak boleh dikunjungi setiap hari, yang mana dilarang pada hari Selasa, Jumat, dan Sabtu; serta non-muslim dan wanita yang sedang berhalangan dilarang masuk. Rumah adat ini juga memiliki ruangan khusus untuk menyimpang benda pusaka yang hanya dibuka saat perayaan “Muharraman” pada tanggal 15 Muharram.

Kehidupan bermasyarakat di Kampung Adat Cikondang berpusat pada religi dan budaya yang kuat. Agama yang dianut oleh masyarakat yaitu Islam dengan masih menjaga budaya dan menghormati leluhurnya. Sistem pemerintahan yang diterapkan yakni dipegang oleh pengurus RT/RW terkait dengan administrasi, sedangkan juru kunci memegang otoritas spiritual dan adat. Kehidupan sehari-hari diatur oleh hukum tak tertulis yang harus ditaati dan jika dilanggar dikenal dengan “pamali”. Sistem kehidupan masyarakat ini memungkinkan adanya interaksi harmonis dengan dunia luar tanpa mengorbankan tradisi. Masyarakat memiliki jiwa gotong royong yang apik antar sesama. Masyarakat Adat Cikondang juga memiliki sistem kalendar sendiri yang disebut dengan “kolenjar”. Selain itu, masyarakat ini juga memiliki makam adat yang terdiri dari pendiri CIkodang (Uyut) dan juru kunci pertama (Ma Empuh). Masyarakat melakukan tawassul di makam ini pada malam Senin dan Kamis.

Aspek Pengobatan

Pengobatan tradisional oleh masyarakat di Kampung Adat Cikondang dilakukan mengunakan tumbuhan yang tumbuh di sekitar rumah untuk keluhan ringan seperti batuk, demam, sakit perut, bahkan hingga tekanan darah tinggi. Beberapa warga menyebutkan bahwa memilih untuk menggunakan pengobatan tradisional terlebih dahulu sebelum ke fasilitas kesehatan. Pengetahuan terkait dengan pengobatan tradisional diturunkan dari generasi sebelumnya dalam bentuk lisan sehingga belum terdokumentasi dengan baik. Namun, seiring berjalannya waktu, pewarisan pengetahuan pengobatan tradisional semakin berkurang. Selain itu, masyarakat sekarang juga sudah memanfaatkan internet untuk mencari informasi pengobatan tradisional. Jenis tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat di Kampung Adat Cikondang ini umumnya dikenali berdasarkan bentuk fisik, rasa, dan pengalaman empiris generasi sebelumnya. Misalnya, untuk penyakit gula (diabetes), masyarakat menggunakan tumbuhan dengan rasa yang pahit, seperti brotowali. Selain itu, masyarakat yang dibantu oleh pemuka adat menentukkan dosis pengobatan berdasarkan hari lahir menurut perhitungan hari.

Selain pengobatan tradisional secara umum, masyarakat Kampung Adat Cikondang juga mengenal “Paraji”. Paraji adalah “dukun bayi” atau penolong persalinan tradisional dalam budaya Sunda. Paraji berperan penting pada konteks kehamilan, persalinan, dan perawatan pasca melahirkan. Namun, saat ini peran paraji berkurang karena sudah ditangani oleh tenaga kesehatan sehingga perannya saat ini hanya membantu tenaga kesehatan dalam proses persalinan. Serta aspek teknis seperti membantu Ibu dalam memandikan bayi dan menyiapkan acara tasyakuran kelahiran bayi. Berdasarkan hasil wawancara, paraji memanfaatkan tumbuhan untuk mendukung kesehatan Ibu dan bayi, seperti melancarkan proses persalinan, mempercepat pemulihan luka, memperlancar produksi ASI, dan mengatasi ganggung kesehatan umum seperti demam dan gangguan pencernaan pada bayi. Pengetahuan paraji sebaiknya tetap dilestarikan untuk diintegrasikan pada pengobatan medis dengan bekerjasama dengan bidan untuk memadukan kearifan lokal dan pelayanan medis modern. Kolaborasi ini menjaga nilai budaya dalam proses persalinan sekaligus memastikan keselamatan ibu dan bayi, menciptakan pelayanan kesehatan yang harmonis dan berkelanjutan.


Gambar 2. Lesung di Kampung Adat Cikondang dan Kuliner Khas Tumpeng

Aspek Kuliner

Masyarakat Kampung Adat Cikondang juga masih menjaga kuliner tradisional daerah setempat. Hal ini tercermin dari kegiatan ritual Muharraman (15 Muharram) dengan menyiapkan tumpeng. Masyarakat akan memulai persiapan sejak tanggal 1 Muharram. Tumpeng ini dibuat sebanyak 500 liter beras untuk membuat 230 tumpeng. Beras yang digunakan untuk membuat tumpeng ini berasal dari panen area persawahan setempat yang terdiri dari beras ketan, pare gede, dan padi huma. Tumpeng disiapkan dengan menggunakan peralatan tradisional seperti hawu atau tungku dan bahan tradisional yang tidak menggunakan bahan masakan sintetik. Keberadaan ritual Muharraman ini memberikan ruang eksistensi varietas padi lokal yg semakin tersingkirkan karena aspek produktivitas serta rasa yg kurang diminati. Dalam hal ini kampung Adat Cikondang berperan layaknya seed bank. Tidak hanya itu, penggunaan rempah dari lingkungan sekitar juga tercermin dalam penggunaan daun walang (Achasma walang) sebagai satu komponen bumbu utama pembuatan tumpeng yang berfungsi sebagai penambah aroma. Masyarakat akan bergotong royong untuk menyiapkan perayaan ritual Muharraman, yang mana dalam pembuatan tumpeng tersebut dilakukan di Rumah Adat dan sebagian lagi akan dipersiapkan di rumah warga. Tumpeng yang sudah siap, akan dibagikan ke warga setempat dan para donatur.


Gambar 3. Tungku Tradisional dan Kuliner Kampung Adat Cikondang

Aspek Pertanian dan Persawahan

Area Kampung Adat Cikondang memiliki luas 3 hektar yang dibagi-bagi menjadi tujuh bagian, termasuk Kebun Adat dan Sawah Adat. Hal ini juga untuk menyokong mata pencaharian masyarakat yang bekerja sebagai bertani dan berkebun. Selain didukung oleh alam yang subur, masyarakat Kampung Adat Cikondang juga menerapkan swasembada pangan. Hal ini ditandai dengan kemampuan panen area persawahan yang mencapai tiga kali dalam setahun. Hasil dua kali panen digunakan untuk kebutuhan sehari – hari, sedangkan satu kali panen digunakan untuk ritual masyarakat ketika acara Muharraman. Selain itu, masyarakat Kampung Adat Cikondang menanam bawang merah dengan target pasar yang sudah terpelihara dengan baik. Hal ini juga perlu dijadikan percontohan yang mana sudah menerapkan prinsip “market driven farming”. Hal ini mendukung isu ketahanan pangan berkelanjutan dengan prinsip pemastian ketersediaan, kemudahan akses, dan stabilitas.

Aspek Hutan Lindung dan Plasma Nutfah

Kampung Adat Cikondang yang berada di Kaki Gunung Tilu ini sangat menjaga keselarasan hubungan manusia dan alam. Hal ini dibuktikan dengan adanya “Hutan Larangan”. Hutan ini berfungsi sebagai hutan lindung untuk penjaga ekosistem. Hutan Larangan (Leuweung Larangan) ini merupakan model konservasi berbasis spiritual yang sangat efektif untuk menjaga kelestarian alam. Masyarakat setempat menerapkan aturan ketat terhadap pemanfaatan hutan agar tetap lestari dan berfungsi sebagai daerah resapan air utama. Vegetasi hutan yang terjaga berperan dalam mempertahankan kelembapan tanah, mencegah erosi, serta memastikan ketersediaan air bersih bagi kebutuhan pertanian dan rumah tangga di sekitar kawasan. Prinsip konservasi yang dijalankan masyarakat Cikondang tidak hanya melestarikan keanekaragaman hayati, tetapi juga mendukung keberlanjutan sumber daya air dan lingkungan.

Beberapa aturan diterapkan sehingga dapat menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Adapun beberapa aturan tersebut antara lain larangan berkunjungan hari Jumat, Sabtu, dan Selasa; serta non-muslim dan wanita berhalangan. Sebelum masuk ke Hutan Larang juga harus melepas alas kaki terlebih dahulu, masuk dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri, aturan khusus untuk memotret, tidak boleh menebang atau mengambil pohon, dan harus menjaga keasrian hutan. Aturan-aturan ini memberikan pesan untuk menjaga nilai kesopanan dan tata krama dalam berinteraksi dengan alam serta pentingnya menjaga kelestarian alam dan keberlangsungan hidup.

Penutup

Kampung Adat Cikondang merupakan bentuk percontohan model komprehensif baik hubungan antar sesama manusia, alam, dan Tuhan. Keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan tercermin dari filosofi dan pedoman hidup yang dipercayai dan diterapkan oleh masyarakat. Hubungan antar sesama manusia ini tercermin dari kebersamaan antar warga dan jiwa gotong royong yang masih dianut oleh masyarakat. Pada hubungan manusia dan lingkungan sudah tercermin dari aspek pertanian dan persawahan yang telah mengusahakan swasembada pangan dan konsep “market driven farming”. Masyarakat Adat juga telah mengenal eksplorasi dan pemanfaatan baik untuk pengobatan maupun kuliner. Keberadaan Kampung Adat ini mampu dijadikan percontohan wilayah yang mampu mengintegrasikan budaya, religi, dan kearifan lingkungan sehingga menganut prinsip keberkelanjutan.

Kegiatan Kuliah Lapangan ini turut berkontribusi dalam pencapaian, khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kualitas akademik dan keterampilan pengambilan data penelitian etnografi bagi mahasiswa; SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui informasi penggunaan obat tradisional oleh masyarakat dan tumbuhan obat yang dibudidayakan oleh masyarakat adat Cikondang; SDG 6 (Clean Water and Sanitation) melalui pengelolaan air berkelanjutan; serta terkait SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui konsep perencanaan wilayah yag baik sehingga menjadikan pemukiman warga yang aman, inklusif, berkelanjutan, dan melindungi warisan budaya. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Sekolah Farmasi ITB berharap dapat memperluas dan mendorong inovasi pengembangan obat bahan alam berbasis local wisdom berdaya saing global.

No Comments yet!

Your Email address will not be published.